Kamis, 08 Mei 2014

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FLUIDA SABUN DAN TEGANGAN PERMUKAAN

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM FLUIDA
 “Sabun dan Tegangan Permukaan”



   

 
 
Oleh :
KELOMPOK 9

-           Aprillia Eka Wardhany                12030654206     
-           Nur Istiqomah Mardhotillah       12030654219     
-           Septanindya Ayu Permatasari    12030654230     
-           Anita Nuraini Dyah Widayanti  12030654244  
-           Kamila Munisa                               12030654246  
PENDIDIKAN SAINS 2012 B



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014



ABSTRAK

Kami telah melakukan percobaan sabun dan tegangan permukaan pada tanggal 05 Mei 2014 di laboratorium Sains Unesa yang bertujuan untuk mengamati dan mengukur tegangan permukaan serta menentukan pengaruh konsentrasi detergen terhadap tegangan permukaan dengan menggunakan alat gelas kimia 500 ml, kawat loop pengukur tegangan permukaan, dan neraca. Metode yang digunakan pada percobaan ini ialah dengan mengukur massa dari masing – masing kawat, kemudian memasukkan air 300 ml kedalam gelas kimia dan memasukan kawat kedalam air dan menambahkan detergen sehingga dapat diamati perubahan yang terjadi. Variabel yang digunakan yaitu variabel manipulasi berupa konsentrasi detergen, variabel respon berupa tegangan permukaan, dan  variabel kontrol berupa panjang kawat. Dari hasil percobaan pada kawat pertama massa kawat ialah 1 gram dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,88 x 10-2, Pada kawat kedua massa kawat ialah 0,5 gram dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,42 x 10-2 , Pada kawat ketiga massa kawat ialah 0,4 gram dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,34 x 10-2 ,  Pada kawat keempat massa kawat ialah 0,6 gram dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,50 x 10-2 . Pada saat volume sabun 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas, pada saat volume sabun 75 ml kawat turun lebih cepat dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 50 ml, dan pada saat volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 75 ml. Sehingga dari percobaan yang telah kami lakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa data yang kami peroleh semakin banyak deterjen yang ditambahkan maka kawat akan turun semakin cepat. Semakin sedikit detergen yang ditambahkan, maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin besar. Dan semakin banyak detergen yang ditambahkan maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin kecil.



Kata kunci : mengukur tegangan permukaan, pengaruh konsentrasi detergen.
  




 BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Mencuci merupakan kegiatan vital dalam dunia boga. Pencucian peralatan boga dari kotoran yang menempel umumnya dibantu dengan menggunakan sabun detergen. Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta sifat tidak membentuk endapan dengan ion-ion logam divalen dalam air sadah Detergen berfungsi menurunkan tegangan permukaan sehingga air dapat membasahi kotoran dan peralatan yang dicuci. Tegangan permukaan zat cair adalah kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang sehingga permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis. Akan tetapi, penggunaan detergen yang berlebih akan mencemari lingkungan. Dalam kegiatan ini, anda akan menemukan konsetrasi detergen yang paling optimal untuk mencuci.

B.      Rumusan Masalah
Penulisan laporan ini dibuat berdasarkan masalah – masalah yang dihimpun dan dijadikan patokan dalam penulisan laporan, adapun masalah pokok didalam laporan ini antara lain :
1. Bagaimanakah pengaruh konsentrasi larutan detergen terhadap tegangan permukaan?
2.  Dapatkah ditemukan konsetrasi detergen yang paling optimal?

C.      Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

1.  Untuk mengamati dan mengukur tegangan permukaan.

2.  Untuk menentukan pengaruh konsentrasi detergen terhadap tegangan permukaan.

 

D.      Hipotesis

Semakin sedikit detergen yang ditambahkan, maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin besar. Dan semakin banyak detergen yang ditambahkan maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin kecil. 

 

 

 

 

 

BAB II
KAJIAN TEORI

Deterjen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta sifat tidak membentuk endapan dengan ion-ion logam divalen dalam air sadah. Deterjen merupakan garam natrium dari asam sulfonat. Deterjen dalam kerjanya dipengaruhi beberapa hal salah satunya adalah jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air yang digunakan. Deterjen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Surfaktan merupakan suatu senyawa aktif penurun tegangan permukaan yang dapat diproduksi melalui sintesis kimiawi maupun biokimiawi. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hidrogen pada permukaan. Semua cairan memiliki tegangan permukaan, tetapi tegangan permukaan air lebih tinggi dari yang lainnya. Tegangan permukaan dari air bisa diturunkan dengan penambahan zat pembasah seperti sabun atau deterjen. Sabun dan deterjen adalah surfaktan (zat aktif permukaan). Ketika suatu deterjen ditambahkan ke butiran air dalam permukaan yang berminyak, tegangan permukaan akan menurun, butiranbutiran akan hancur, dan air akan menyebar. Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu untuk mengimbangi gaya tarikan kedalam pada cairan,hal tersebut karena gaya adhesi lebih kecil dari gaya kohesi antara molekul cairan sehingga menyebabkan terjadinya gaya kedalam pada permukaan cairan. Dengan kata lain tegangan permukaan (g) didefinisikan sebagai gaya (F) persatuan panjang (L) yang bekerja tegak lurus pada setiap garis di permukaan fluida. Permukaan fluida yang berada dalam keadaan tegang berupa selaput cairan sangat tipis terdiri atas permukaan bagian atas dan permukaan bagian bawah , sehingga secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut :



 
Keterangan :
  = Tegangan Permukaan
F     = Gaya
L     = Panjang permukaan
m    = massa benda
g     = gaya gravitasi ( 9,8 ) 

Tegangan permukaan terjadi karena permukaan zat cair cenderung untuk menegang sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi antara molekul air. Agar semakin memahami penjelasan ini, perhatikan ilustrasi berikut. Kita tinjau cairan yang berada di dalam sebuah wadah.



 

Molekul cairan biasanya saling tarik menarik. Di bagian dalam cairan, setiap molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul lain di setiap sisinya; tetapi di permukaan cairan, hanya ada molekul-molekul cairan di samping dan di bawah. Di bagian atas tidak ada molekul cairan lainnya. Karena molekul cairan saling tarik menarik satu dengan lainnya, maka terdapat gaya total yang besarnya nol pada molekul yang berada di bagian dalam cairan. Sebaliknya, molekul cairan yang terletak dipermukaan ditarik oleh molekul cairan yang berada di samping dan bawahnya. Akibatnya, pada permukaan cairan terdapat gaya total yang berarah ke bawah. Karena adanya gaya total yang arahnya ke bawah, maka cairan yang terletak di permukaan cenderung memperkecil luas permukaannya, dengan menyusut sekuat mungkin. Hal ini yang menyebabkan lapisan cairan pada permukaan seolah-olah tertutup oleh selaput elastis yang tipis. Fenomena ini kita kenal dengan istilah Tegangan Permukaan. Suhu mempengaruhi nilai tegangan permukaan fluida. Umumnya ketika terjadi kenaikan suhu, nilai tegangan permukaan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena ketika suhu meningkat, molekul cairan bergerak semakin cepat sehingga pengaruh interaksi antar molekul cairan berkurang. Akibatnya nilai tegangan permukaan juga mengalami penurunan. Penyebab terjadinya tegangan permukaan adalah Partikel A dalam zat cair ditarik oleh gaya sama besar ke segala arah oleh partikel-partikel di dekatnya.Partikel B di permukaan zat cair hanya ditarik oleh partikel-partikel disamping dan dibawahnya,hingga pada permukaan zat cair terjadi tarikan ke bawah. Ada beberapa metoda penentuan tegangan permukaan, diantaranya adalah metoda kanaikan pipa kapiler, metoda tekanan maksimum gelembung, metoda tetes atau metoda cincin.


 


BAB III
METODE PERCOBAAN

A.            Rancangan Percobaan
 

B.            Alat dan Bahan
Nama Alat/Bahan
Jumlah
Gelas Kimia 500 ml
4 buah
Kawat Loop Pengukur tegangan permukaan
4 buah
Detergen
225 ml
Neraca
1 buah
Air
300 ml
Gelas Ukur 100 ml
1 buah










C.            Variabel
Variabel kontrol                 :  Panjang kawat.
Variabel respon                  :  Tegangan Permukaan.
Variabel manipulasi           : Konsentrasi Detergen.

D.            Alur Percobaan


 
E.            Langkah Kerja
Langkah pertama untuk melakukan percobaan sabun dan tegangan permukaan ini adalah memasukkan air sebanyak 300 ml kedalam gelas kimia 500 ml. Kemudian setelah menimbang massa kawat pertama, langkah berikutnya ialah memasukan kawat pertama kedalam gelas kimia yang telah berisi 300 ml air. Selanjutnya memasukan 50 ml detergen kedalam air dan mengamati serta mencatat hasil yang diperoleh. Kemudian mengulangi langkah – langkah tersebut untuk kawat kedua, kawat ketiga, dan kawat keempat serta untuk volume sabun 75 ml dan 100 ml. Langkah terakhir yaitu mengamati dan mencatat hasil percobaan yang telah diperoleh.





BAB IV
DATA DAN ANALISIS

A.      Data
          Tabel 4.1. Hasil Percobaan Sabun dan Tegangan Permukaan
Kawat
Massa Kawat
(gr)
Volume Sabun
Hasil Pengamatan
50 ml
75 ml
100 ml
1.
1
0,88 x 10-2
0,88 x 10-2
0,88 x 10-2
·      Pada volume sabun 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas.
·      Pada volume sabun 75 ml kawat turun lebih cepat dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 50 ml.
·      Pada volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 75 ml.
2.
0,5
0,42 x 10-2
0,42 x 10-2
0,42 x 10-2
·      Pada volume sabun 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas.
·      Pada volume sabun 75 ml kawat turun lebih cepat dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 50 ml.
·      Pada volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 75 ml.
3.
0,4
0,34 x 10-2
0,34 x 10-2
0,34 x 10-2
·      Pada volume sabun 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas.
·      Pada volume sabun 75 ml kawat turun lebih cepat dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 50 ml.
·      Pada volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 75 ml.
4.
0,6
0,50 x 10-2
0,50 x 10-2
0,50 x 10-2
·      Pada volume sabun 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas.
·      Pada volume sabun 75 ml kawat turun lebih cepat dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 50 ml.
·      Pada volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah dibandingkan dengan volume sabun 75 ml.

B.      Analisis
Pada kawat pertama massa kawat ialah 1 gram dengan panjang kawat 5,6 cm (5,86 x 10-2 m) dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,88 x 10-2. Pada saat kawat pertama dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas. Kemudian pada saat kawat pertama dicelupkan kedalam air dan ditambahkan detergen sebanyak 75 ml kawat turun lebih cepat dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 50 ml. Dan pada saat kawat pertama dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 100 ml kawat semakin cepat turun dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 75 ml.
Pada kawat kedua massa kawat ialah 0,5 gram dengan panjang kawat 5,8 cm (5,8 x 10-2 m) dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,42 x 10-2. Pada saat kawat kedua dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas. Kemudian pada saat kawat kedua dicelupkan kedalam air dan ditambahkan detergen sebanyak 75 ml kawat turun lebih cepat dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 50 ml. Dan pada saat kawat kedua dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 100 ml kawat semakin cepat turun dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 75 ml.
Pada kawat ketiga massa kawat ialah 0,4 gram dengan panjang kawat 5,7 cm (5,7 x 10-2 m) dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,34 x 10-2. Pada saat kawat ketiga dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas. Kemudian pada saat kawat ketiga dicelupkan kedalam air dan ditambahkan detergen sebanyak 75 ml kawat turun lebih cepat dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 50 ml. Dan pada saat kawat ketiga dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 100 ml kawat semakin cepat turun dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 75 ml.
Pada kawat keempat massa kawat ialah 0,6 gram dengan panjang kawat 5,9 cm (5,9 x 10-2 m) dan tegangan permukaan yang dihasilkan ialah 0,50 x 10-2. Pada saat kawat keempat dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 50 ml kawat turun secara perlahan dan posisi kawat masih berada diatas. Kemudian pada saat kawat keempat dicelupkan kedalam air dan ditambahkan detergen sebanyak 75 ml kawat turun lebih cepat dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 50 ml. Dan pada saat kawat keempat dicelupkan kedalam air dan ditambahkan deterjen sebanyak 100 ml kawat semakin cepat turun dan posisi kawat berada lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat pada saat diberi deterjen sebanyak 75 ml.





BAB V
PEMBAHASAN DAN DISKUSI

A.      Pembahasan
Dari percobaan sabun dan tegangan permukaan yang telah kami lakukan menggunakan volume detergen yang berbeda, yaitu volume deterjen 50 ml, volume deterjen 75 ml, dan volume deterjen 100 m. Percobaan ini untuk mengamati dan mengukur tegangan permukaan serta menentukan pengaruh konsentrasi detergen terhadap tegangan permukaan. Hasil percobaan yang kami lakukan sesuai dengan teori mengenai tegangan permukaan pada zat cair. Pada volume sabun 50 ml kawat pertama, kedua, ketiga dan keempat turun secara perlahan, sedangkan pada volume sabun 75 ml kawat lebih cepat turun jika dibandingkan dengan posisi kawat dengan volume sabun 50 ml, dan pada volume sabun 100 ml kawat semakin cepat turun dan berada pada posisi lebih kebawah jika dibandingkan dengan posisi kawat dengan volume sabun 75 ml. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyak deterjen yang ditambahkan maka kawat akan turun semakin cepat. Secara teori hal ini disebabkan karena molekul-molekul zat cair yang berada di bagian dalam fasa cair seluruhnya akan dikelilingi oleh molekul-molekul dengan gaya tarik-menarik sama ke segala arah. Akibatnya, pada permukaan cairan terdapat gaya total yang berarah ke bawah karena adanya gaya total yang arahnya ke bawah, maka cairan yang terletak di permukaan cenderung memperkecil luas permukaannya dengan menyusut sekuat mungkin.
B.      Diskusi
Lampiran hasil perthitungan tegangan permukaan secara matematis :
   





BAB VI
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa data yang kami peroleh melalui percobaan sama dengan teori mengenai tegangan permukaan yaitu semakin banyak deterjen yang ditambahkan maka kawat akan turun semakin cepat. Semakin sedikit detergen yang ditambahkan, maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin besar. Dan semakin banyak detergen yang ditambahkan maka tegangan permukaan yang dihasilkan semakin kecil.

  




DAFTAR PUSTAKA

Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC.
Giancoli. 2001. Fisika Edisi ke-5 Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
D, Satya. 2012. Hubungan Detergen dengan Tegangan Permukaan Air . URL : http://satyad.blogspot.com/2012/02/hubungan-deterjen-dengan-tegangan.html. diakses pada 5 Mei 2014
Ibrahim, Solihin. 2000. Fisika. erlangga: Jakarta 
Kanginan, Marthen. Physics for Senior High School 2nd Semester Grade XI. 2010. Jakarta: Erlangga
Rizky.2012. Tegangan Permukaan. URL : http://riizky007.blogspot.com/2012/10/tegangan-permukaan.html diakses pada 5 Mei 2014

  



LAMPIRAN


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar